Web Dosen

Care For Better Life

Kecerdasan Manusia Bodoh

04 March 2017 - dalam Suara Angin Oleh nkalita-fkp

Howard Gardner dari Harvard University menyampaikan setidaknya ada delapan (8)  tipe kecerdasan  yaitu :

1. Visual spasial : berfikir dalam citra dan gambar

2. Kinestetik fisik : berfikir melalui sensasi gerakan fisik

3. Linguistik verbal : berfikir dalam kata-kata

4. Musikal ritmitk : berfikir dalam irama dan melodi

5. Matematis logis : berfikir dengan nalar

6. Naturalis : berfikir dalam acuan alam raya

7. Interpersonal : berfikir melaui interaksi dengan orang lain

8. Intrapersonal atau kecerdasan intuitif: berfikir secara reflektif

Demikian beragamnya tipe kecerdasan, tapi  dalam pembelajaran  sepertinya ini belum menjadi pertimbangan apalagi rujukan, sehingga  akan menutupi potensi belajar   atau potensi belajar yang unggul tidak  berkembang. Akhirnya  ada seorang yang pintar, dan ada yang  mungkin menurut penilaian  umum dianggap bodoh. Seperti guru yang meminta muridnya memanjat pohon sedangkan muridnya  tidak hanya monyet, tapi ada ikan, kucing,  burung, gajah, kelinci, dan lainnya yang punya keunggulan tipe lainnya. 

Tipe kecerdasan sepertinya perlu dikenali sejak awal, sehingga lingkungan  akan lebih mudah mengarahkan?  Apakah tanggung jawab orang tua, guru, sekolah,  dinas pendidikan, atau regulasi oleh negara  supaya  arah anak bangsanya jelas tidak  salah kaprah? 

Bagaimana  kecerdasan yang  beragam ini  bisa menjadi rujukan  dalam melihat diri pembelajar, sehingga tidak membatasi potensi unggulnya. Setiap orang adalah pintar, tidak ada  manusia bodoh. Mungkin  yang ada adalah formulasi yang membodohkan seseorang yang seharusnya terasah  pada potensi lain yang tidak tergali. 

Kalau seseorang  akan berkarier di lingkup kesehatan (Dokter, Dokter Gigi, Perawat, Apoteker) )dia harus memiliki kecerdasan jenis  apa?  Bagaimana kompetensi yang harus  dimiliki? Bagaimana standarisasi kompetensinya?  Bagaiman mengukurnya? Apakah cukup dengan soal analisa di atas kertas atau komputer? Bagaimana  mengukur empatinya dengan penderita  penyakit kronis  dan keluarga?  



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :