Web Dosen

Care For Better Life

Cerita Mahabarata

08 March 2017 - dalam Suara Angin Oleh nkalita-fkp

Sanjaya akhirnya sampai di Kurusetra, tanah dimana perang  besar Mahabarata terjadi selama delapan belas hari. Dia berdiri di atas tanah yang basah oleh darah. Tiba- tiba sebuah suara menyapanya " Anda  tidak akan pernah mengetahui kebenarannya"  Sanjaya melihat seorang pria tua berjubah mencul begitu saja.

"Apa maksudmu?" Sanjaya tahu bahwa di hadapannya berdiri seseorang  yang tahu lebih banyak  tentang perang daripada orang lain. 

"Mahabarata  adalah sebuah cerita  kepahlawanan, balada, mungkin sebuah kisah nyata tapi pastinya juga  mengandung banyak  filsafat  tentang kebenaran.  Orang tua  itu tersenyum  memikat, Sanjaya bertanya lagi. 

"Bisakah anda  ceritakan  apa filosofi perang tersebut?  Dengan penuh keyakinan orang tua itu berkata. 

"Pandawa  tidak lain  adalah lima indera kita, pengelihatan, penciuman, rasa, sentuhan, dan suara dan tahukah kau siapaKurawa?" tanyanya menyipitkan mata. 

Sanjaya menggeleng " Korawa adalah seratus sifat buruk  yang menyerang indera kita sehar--hari. tetapi apakah anda tahu cara melawannya? Sanjaya menggeleng...

Ketika Krisna  naik kereta anda!" Kata orang tua itu sambil tersenyum cerah dan Sanjaya tersentak.. "Krisna dalah lambang Suara Hati, cahaya penuntun". Lalu Sanjaya mengajukan pertanyaan lagi, " Kenapa Drona dan Bisma berjuang untuk Korawa? apakah mereka jahat? Orang tua itu tampak sedih.. " Hal ini lambang anggapan anda  bahwa yang dituakan, orang tua, guru, pemerintah selalu benar. Anggapan guru adalah sempurna, namun pada kenyataannya mereka seorang manuasia biasa yang pernah keliru, atau mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit. 

Lalu bagaimana dengan Karna? Ah.. anda telah mengajukan pertanyaan yang baik. Karna  seorang kesatria yang memahami  kaedah  kebaikan namun dengan alasan mencari keadilan ia memihak kejahatan. 

Karna adalah saudara indra anda, ia adalah keinginan, Ia membuat alasan  agar bisa berpihak pada ketidakbenaran. Apakah Keinginan anda tidak berusaha mencari pembenaran agar bisa melakukan ketidakbenaran? 

Sanjaya menatap tanah, ketika ia mendongak orang tua itu sudah pergi. Dia sudah menghilang di pusaran debu....



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :