NK Alit Armini

Kliping Warna Warni

Askep Inpartu

10 March 2017 - dalam Women Health Oleh nkalita-fkp

Persalinan merupakan  proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir, sedangkan kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban  didorong keluar melalui jalan lahir. 

Persalian dan kelahiran normal : 

Proses pengeluaran janin  yang terjadi  pada  kehamilan cukup bulan (37-42 mingg) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. 

Persalinan dibagi menjadi 4 kala :

Kala 1 : Dimulai dari  saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap ( 10 cm). Proses ini dibagi menjadi 2 fase: fase laten serviks membuka sampai 3 cm, dan fase aktif  serviks membuka dari 3 cm sampai 10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif. 

Kala 2 : Dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) samapai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. 

Kala 3 : Dimulai segera setelah lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. 

Kala 4 : Dimulai saat lahirnya plasenta samapai 2 jam  pertama post partum. 

Proses keluarnya bayi dari uterus ke dunia luar pada saat persalinan berhubungan dengan mekanisme persalinan. 

Gerakan pada mekanisme persalinan :

1. Engagement 2. Descent ( Turunnya Kepala) 3. Fexi 4. Internal Rotasi 5. Extensi 6. External Rotasi 7. Expulasi

Materi lengkap silakan pelajari handout PPT. Askep Inpartu 

KUIS  :  Hal penting apa yang perlu diperhatikan  petugas kesehatan saat pengelola pasien  Inpartu ? Tanggapan  saudara adalah  salah  satu gambaran  keaktifan dan  berfikir kritis dalam  PBM. 



Read More | Respon : 55 komentar

55 Komentar

Elsa Yunita Mujarwati

pada : 13 March 2017


"berdasarkan apa yang telah saya dapatkan saat perkuliahan bersama bu Alit, hal penting yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien Inpartu yaitu melihat kemajuan persalinan seperti; pembukaan serviks, turunnya janin/kepala janin serta His. selain itu juga harus diperhatikan keadaan janin dan ibu, pada janin perlu diperhatikan frekuensi jantung janin, warna, jumlah dan lamanya ketuba pecah. hal yang perlu diperhatikan pada ibu yaitu nadi, suhu, TD, dan urine (volume, protein, aseton)"


Soraya Salma Rahmadita

pada : 13 March 2017


"Hal penting apa yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat pengelola pasien Inpartu ?
Riwayat Kesehatan klien apakah terdapat riwayat penyakit penyakit beresiko seperti Hipertensi, DIabetes, dll
Riwayat Persalinan sebelumnya (adanya abortus, prematur, dll)
Kesiapan pasien terhadap kehamilannya
Pemeriksaan fisik dan laboratoriumnya.
Kebutuhan nutrisi dan cairannya
Lihat tanda bahaya komplikasi seperti pengeluaran ketuban, perdarahan
Resiko trauma pada bayinya
Hasil pemeriksaan Vagina Tusae nya
Respon Klien selama kontraksi
Periksa adanya kemajuan persalinan seperti Pembukaan serviks dan penurunan his
Periksa terus TTV, DJJ, Kontraksi uterus, dilatasi serviks, dan cek kondisi perineumnya terjadi robekan atau tidak
"


Cholilatul Zuhriya

pada : 13 March 2017


"Selamat malam, saya Cholilatul Zuhriya/131411131051/A3/Angkatan 2014, saya akan memberi tanggapan menurut saya dan beberapa sumber yang saya pelajari terkait hal penting yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat pengelolaan pasien Inpartu yaitu :
a. Mengobservasi saat persalinan berlangsung; memantau kondisi janin dan kondisi bayi setelah lahir; memahami faktor resiko dan penanganan yang akan dilakukan; mendeteksi dan mengatasi masalah sedini mungkin seperti kurangnya volume cairan maupun perubahan pada tanda-tanda vital yang mengarah pada keabnormalan, melakukan intervensi minor jika diperlukan seperti amniotomi dan episiotomi; perawatan bayi baru lahir,serta merujuk ke tingkat perawatan yang lebih tinggi jika terjadi komplikasi.

b. Mendukung wanita, pasangan dan keluarga selama proses persalinan. Dukungan sosial dan emosional serta pelayanan selama persalinan adalah salah satu intervensi yang tepat digunakan untuk mencapai pengalaman melahirkan yang positif.. Hal ini sejalan dengan penelitian Enkin (2000) yang menyatakan bahwa jika wanita diperhatikan dan diberi dukungan selama proses persalinan, maka mereka akan aman dan merasa nyaman serta persalinan juga akan berlangsung lebih cepat.
"


Natalia Haris Krisprimada

pada : 14 March 2017


"Hal penting apa yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu?
1.Pengkajian data klien selama kehamilan, riwayat kehamilan
2.Pemeriksaan fisik keadaan ibu dan anak (nadi, tekanan darah, suhu, urin ( apakah ada proteinuria, volume, dan aseton) obat-obatan dan cairan intravena)
3.Observasi tanda-tanda inpartu :
Munculnya tanda-tanda persalinan, terdapat his yang adekuat dan teratur (frekuensi per 10 menit), terdapat pembukaan / dilatasi serviks, keluar lendir bercampur darah (bloody show)
4.Bagaimana posisi bayi, untuk menentukan tindak lanjut proses persalinan
5.Memberikan posisi yang nyaman dan aman bagi klien , apabila klien masih bisa berjalan , klien boleh berjalan disekitar ruang persalinan dengan pemantauan tenaga kesehatan
6.Observasi fase-fase persalinan setiap kala
7.Petugas kesehatan memberikan intervensi pada klien inpartu sesuai dengan kondisi keadaan.
8.Pencatatan Partograf pada klien (kemajuan persalinan, keadaan janin, keadaan ibu)
9.Petugas kesehatan menyiapkan rujukan untuk klien"


Desy Ratna Sari

pada : 14 March 2017


"Hal yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu :
1. Pengkajian kondisi pasien saat datang.
2. Pengkajian data selama kehamilan.
3. Melakukan pengkajian dan anamnesa pada setiap kala secara rutin.
4. Menganjurkan pasien inpartu untuk beraktifitas disekitar tempat persalinan jika pasien masih bisa berjalan.
5. Mengisi partograf untuk mencegah partus lama.
6. Pemantauan kesejahteraan ibu meliputi frekuensi nadi, suhu, TD, urinalisis, keseimbangan cairan, pemeriksaan abdomen, dan pemeriksaan jalan lahi.
7. Pemantauan kesejahteraan bayi meliputi frekuensi dan pola DJJ, PH darah janin dan cairan amnion.
8. Memanajemen infeksi inpartu dengan mencegah partus lama, penggunaan antibiotik secara rasional, memanajemen ketuban pecah dini, dan memanajemen pasca persalinan.
9. Mempersiapkan rujukan.
10. Kateterisasi hanya untuk pasien inpartu yang tidak dapat berkemih.
11. Setelah bayi lahir pantau sekilas kesejahteraan bayi dengan SICTUNA/ISGTUNA score.
"


Aisyah Kartika

pada : 14 March 2017


"Petugas kesehatan pengelola pasien inpartu dihadapkan pada waktu yang relatif singkat. Penting untuk menggunakan waktu yang ada guna mengembangkan hubungan terapeutik dan memberikan lingkungan yang memenuhi kebutuhan pasien maupun keluarga. Kecakapan petugas dengan komunikasi terapetik ditambah dengan pemahaman dan keterampilan teknis merupakan kunci untuk mengimplementasikan asuhan yang efektif.
Peran utama perawat persalinan adalah memastikan kesejahteraan ibu dan janin selama proses melahirkan, memberi dukungan bio-psiko-sosial yang adekuat, dan beraspons terhadap setiap komplikasi dengan cara yang tepat dan tepat waktu.
AISYAH KARTIKA – 131411131072 – A3"


Diana Rachmawati

pada : 14 March 2017


"Menurut Sumarah (2009), ada dua hal penting yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengengelola pasien inpartu, yaitu kebutuhan fisik dan psikologis.
Kebutuhan fisik yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Kebersihan dan kenyamanan ibu. Ibu yang sedang inpartu pasti akan merasa tidak nyaman karena merasa panas dan mudah berkeringat. Untuk menjaga kenyamanannya, sebagai petugas kesehatan, kita bisa membantunya untuk mandi (apabila memungkinkan untuk berjalan). Jika ibu sudah tidak memungkinkan untuk berjalan, kita bisa membantu untuk menyeka badannya.
2. Posisi. ajarkan posisi yang nyaman pada ibu selama masa inpartu. Hindari posisi telentang.
3. Kontak fisik. Selama proses inpartu, biasanya ibu tidak suka bercakap-cakap dan lebih suka dengan kontak fisik. Anjurkan keluarga untuk mau memegang tangannya, mendekap, atau mengelus perutnya.
4. Pijatan. Pijatan berguna untuk mengurangi keluhan nyeri pinggang selama proses persalinan.
5. Perawatan kandung kemih. Pada ibu inpartu, keinginan untuk berkemih sering mengalami gangguan. Oleh karena itu, setiap 4 jam kita harus memonitor kebutuhan berkemih ibu.
Dari sisi psikologi, ibu yang akan bersalin biasanya akan mengalami kecemasan. Untuk meminimalisir hal tersebut, petugas kesehatan yang menolong persalinan harus memberikan dukungan dan bimbingan agar si ibu dapat beradaptasi dengan keadaannya serta mengurangi kecemasan yang dialaminya.

DIANA RACHMAWATI
131411131060
A3/A2014"


Novita Anggraeni A

pada : 14 March 2017


"1. Melakukan pengkajian pada ibu. Melakukan pemeriksaan pada ibu pada setiap kala yang berlangsung. Mengisi partograf untuk memantau keadaan bayi dan ibu.
2. menjelaskan prosedur persalinan, hal-hal yang perlu di persiapkan saat persalinan guna mengurangi kecemasan ibu terhadap kurangnya informasi.
3. Menyiapkan Ruangan untuk Persalinan dan Kelahiran Bayi. Ruangan dan lingkungan yang hangat, bersih dan nyaman serta menghormati privasi.
4. Menyiapkan Perlengkapan, Bahan-Bahan dan Obat-Obatan Esensial pada persalinan.
5. Menyiapkan Rujukan
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat membahayakan jiwa ibu dan/atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
6. Memberikan Asuhan Sayang Ibu selama Persalinan. Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk :
- Memberikan dukungan emosional.
- Membantu pengaturan posisi.
- Memberikan cairan dan nutrisi.
- Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur.
- Pencegahan infeksi.
7. Memberikan Asuhan sayang bayi
8. Pencegahan Infeksi
Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan peralatan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan. Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir."


Novita Anggraeni A

pada : 14 March 2017


"1. Melakukan pengkajian pada ibu. Melakukan pemeriksaan pada ibu pada setiap kala yang berlangsung. Mengisi partograf untuk memantau keadaan bayi dan ibu.
2. menjelaskan prosedur persalinan, hal-hal yang perlu di persiapkan saat persalinan guna mengurangi kecemasan ibu terhadap kurangnya informasi.
3. Menyiapkan Ruangan untuk Persalinan dan Kelahiran Bayi. Ruangan dan lingkungan yang hangat, bersih dan nyaman serta menghormati privasi.
4. Menyiapkan Perlengkapan, Bahan-Bahan dan Obat-Obatan Esensial pada persalinan.
5. Menyiapkan Rujukan
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat membahayakan jiwa ibu dan/atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
6. Memberikan Asuhan Sayang Ibu selama Persalinan. Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk :
- Memberikan dukungan emosional.
- Membantu pengaturan posisi.
- Memberikan cairan dan nutrisi.
- Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur.
- Pencegahan infeksi.
7. Memberikan Asuhan sayang bayi
8. Pencegahan Infeksi
Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan peralatan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan. Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir."


Pratiwi Putri Marminingrum

pada : 14 March 2017


"Yang pertama hal penting yang perlu kita perhatikan adalah : tanda-tanda persalinan/inpartu ,dari tanda-tanda persalinan tersebut kita dapat mengetahui apakah inpartu/persalinan klien itu normal/tidak
Yang kedua yaitu kita melakukan pengkajian dari kala 1 sampai kala 4
Yang terakhir ,kita melakukan pengkajian pada klien, apakah ada penyakit penyerta? Misalnya penyakit diabetes militus dan penyakit jantung .Jika ada ,klien dianjurkan inpartu/persalinannya melalui proses seksio sesaria
Terimakasih"


Pratiwi Putri Marminingrum

pada : 14 March 2017


"Yang pertama hal penting yang perlu kita perhatikan adalah : tanda-tanda persalinan/inpartu ,dari tanda-tanda persalinan tersebut kita dapat mengetahui apakah inpartu/persalinan klien itu normal/tidak
Yang kedua yaitu kita melakukan pengkajian dari kala 1 sampai kala 4
Yang terakhir ,kita melakukan pengkajian pada klien, apakah ada penyakit penyerta? Misalnya penyakit diabetes militus dan penyakit jantung .Jika ada ,klien dianjurkan inpartu/persalinannya melalui proses seksio sesaria
Terimakasih"


Dwida Rizki Pradiptasiwi

pada : 14 March 2017


"Nama : Dwida Rizki Pradiptasiwi
NIM : 131411131015
Kelas : A3 – 2014

Hal penting apa yang perlu diperhatikan oleh petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu?
Menurut saya hal yang perlu diperhatikan oleh petugas saat mengelola pasien inpartu adalah

Persalinan Pervaginam
1. Monitor kebutuhan nutrisi dan cairan ibu
2. Monitor tanda bahaya komplikasi seperti pengeluaran ketuban dan perdarahan
3. Monitor trauma pada bayi
4. Melakukan pemeriksaan dalam (Vagina Tusae)
5. Monitor tanda-tanda setiap kala pada persalinan
6. Monitor respon klien selama kontraksi
7. Catat seluruh tindakan dalam Rekam Medik
Kala I
1. Melakukan pemeriksaan fisik
2. Memonitor tanda-tanda vital
3. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
4. Edukasi mobilisasi dan posisi
5. Auskultasi denyut jantung janin (DJJ)
6. Monitor kontraksi uterus, dilatasi servik, penurunan presentasi dan kondisi perineum
Kemajuan Tanda dan Gejala Keterangan
Persalinan - Kontraksi tidak progresif
- Kecepatan pembukan serviks ≤ 1cm/jam
- Serviks tidak dipenuhi bagian bawah janin Distosia pada kala I fase aktif = garis pembukaan servik pada partograf berada diantara garis waspada dan garis bertindak atau sudah memotong garis bertindak
Kondisi ibu - Denyut nadi meningkat
- Tekanan darah menurun
- Terdapat aseton urin - Kemungkinan dehidrasi / kesakitan
- Nilai adakah perdarahan
- Curiga asupan nutrisi kurang, beri dextrosa IV bila perlu
Kondisi bayi - Denyut jantung 180 x/menit
- Posisi selain oksiput anterior dengan flexi sempurna - Curiga kemungkinan gawat janin
- Posisi abnormal verteks kepala janin (dengan ubun-ubun kecil sebagai penanda) terhadap panggul ibu

Kala II
1. Memonitor tanda-tanda vital
2. Fasilitasi upaya meneran
3. Memonitor hasil pemeriksaan Vagina Tusae
4. Monitor tanda-tanda kala II dan respon ibu
5. Monitor koping klien selama kontraksi
6. Maternal-infant bonding
7. Petugas kesehatan melakukan 58 langkah APN
8. Memeriksa apakah ibu ada tanda-tanda sebagai berikut
- Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
- Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya
- Perineum menonjol dan menipis
- Vulva vagina dan sfingter ani membuka
Kala III
1. Memonitor apakah ada kontraksi uterus
2. Memonitor tanda-tanda perdarahan
3. Memonitor laserasi jalan lahir
4. Memonitor kebutuhan cairan dan nutrisi ibu
5. Pertolongan kelahiran plasenta
6. Pertahankan privacy
7. Periksa kehangatan bayi
8. Bonding attachment
9. Menjaga kebersihan personal
10. Petugas kesehatan melakukan 58 langkah APN \
Kala IV
1. Mencegah terjadinya perdarahan
2. Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi
3. Memnuhi kebutuhan personal hygiene
4. Mencegah distensi kandung kemih
5. Mempertahankan kenyamanan dan keamanan
6. Memenuhi kebutuhan bonding attachment
7. Petugas kesehatan melakukan 58 langkah APN

Persalinan Seksio Sesaria
1. Mengkaji indikasi persalinan melalui seksio sesaria
2. Memberikan konseling resiko dan keuntungan seksio sesaria dibandingkan dengan persalinan pervaginam kemudian dokumentasikan indikasi dan hasil konseling
3. Memberikan konseling jika seksio sesaria elektif dilakukan pada usia kehamilan >39 minggu
4. Informed consent kepada ibu dan satu perwakilan keluarganya dan melengkapi surat persetujuan tindakan medis
5. Tanyakan dan catat riwayat medis pembedahan, riwayat alergi obat & makanan dan riwayat pembiusan pada operasi sebelumnya
6. Periksa ulang denyut jantung janin
7. Periksa tanda-tanda vital
8. Lakukan prosedur seksio sesaria dengan prosedur yang benar
9. Perhatikan apakah perdarahan terus berlanjut sewaktu pembedahan atau tidak
10. Lakukan perawatan pasca pembedahan
- Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotika kombinasi sampai pasien bebas demam selama ±48 jam
- Beri analgesik bila perlu
- Periksa tanda-tanda vital, tinggi fundus, kontraksi uterus, kandung kemih dan perdarahan setiap
15 menit pada 1 jam pertama
30 menit pada 1 jam berikutnya
Setiap 1 jam selama 4 jam berikutnya
- Jika dalam 6 jam pemantauan
Kondisi ibu stabil maka pindahkan ibu ke ruang rawat
Kondisi ibu tidak stabil maka lakukan evaluasi ulang untuk tindakan yang sesuai
- Catat seluruh tindakan dalam Rekam Medik

Daftar Pustaka
Kemenkes. 2013. Buku Saku : Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta
Presentasi bu Ni Ketut Alit Armini, S.Kp. M.Kes"


Shanti Indah Lestari

pada : 14 March 2017


"Hal yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu adalah:
1. Memahami hasil data pengkajian
Saat pasien datang, petugas kesehatan harus mengetahui terlebih dahulu riwayat kesehatan pasien selain data demografi. Data tersebut akan menunjukkan ada tidaknya kegawatan atau komplikasi yang diderita pasien saat kehamilan berlangsung (contoh: preeklamsi, dll). Pada kehamilan dengan risiko tinggi tentu tidak disarankan melakukan persalinan secara pervaginam. Hal seperti ini perlu ditindaklanjuti sebagai bentuk kolaborasi perawat dengan tenaga kesehatan lain.
2. Sudah ada tanda persalinan
Tanda persalinan: his adekuat dan teratur, dilatasi serviks, keluar lendir dan bloody show. Jika sudah ada ketiga tanda ini maka dapat dilakukan tindakan selanjutnya menuju persalinan. Hal ini harus dipastikan karena his palsu biasa terjadi pada ibu hamil.
3. Tahu sudah memasuki kala ke-berapa?
Hal ini harus diketahui karena intervensi di setiap kala pasti berbeda. Pasien sudah memasuki kala ke berapa dapat di lihat melalui tanda-tanda yang sudah muncul, selain itu bisa menggunakan VT (Vagina Tusae).
4. Pencatatan partograf
Untuk menilai kemajuan persalinan. Terkait dengan pembukaan serviks, turunnya, his yang terjadi. Pencatatan partograf ini bisa dilakukan agar mempermudah tenaga kesehatan untuk memantau proses menjelang. persalinan.
5. Building trust
Building trust merupakan suatu bentuk hubungan yang terjalin antara pasien dengan tenaga kesehatan . Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah perawat. Peran perawat sangat penting terkait dengan bio psiko sosial spiritual pasien. Terkadang perawat hanya memperhatikan tindakan yang terkesan invasif. Pada kasus persalinan, hal yang perlu diperhatikan secara khusus adalah psikologis pasien. Belum lagi kalau pasiennya belum pernah melakukan persalinan sebelumnya. Persepsi nyeri pasien, teknik pengalihan (distraksi), kemampuan mengejan, dll). Kalau persepsi pasien tentang proses persalinan baik, maka prosesnya pun akan berjalan dengan lancar. Begitupun sebaliknya. Pasien harus kita berikan edukasi terkait hal-hal tersebut sebelum proses persalinan berlangsung sampai pasien benar-benar paham. "


Titin Paramida

pada : 14 March 2017


"Hal yang perlu diperhatikan pertama kali yaitu rekam medis pasien. Di dalam rekam medis terdapat sejumlah informasi terkait riwayat kesehatan dan riwayat melahirkan/ kehamilan sebelumnya atau informasi penting lainnya. Jika pasien datang untuk pertama kalinya maka kita harus mengkajinya terlebih dahulu. Hal ini akan membantu petugas kesehatan untuk menentukan teknik.intervensi apa yang diperlukan dalam proses persalinan pasien. Selain itu, kita bisa melihat respon/ psikologis pasien jika respon pasien cemas/ takut menghadapi jalannya proses persalinan maka petugas kesehatanlah yang harus memberikan dukungan atau memangil keluarga pasien untuk memberikan support dan kenyamanan untuk pasien karena hal tersebut sangat berkaitan erat dengan lancarnya proses persalinan. Pasien harus kita pantau/ monitor setiap 30 menit sekali untuk melihat HIS, DJJ, TTV atau dengan pemeriksaan Vagina Tusae. Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana pembukaan serviks dan tekanan yang akan mendorong bayi keluar rahim. Informasi ini juga diperlukan pasien untuk mengetahui kondisi bayi dan hal-hal apa yang bisa pasien lakukan sembari menunggu pembukaan lengkap. untuk mendukung proses mengejan petugas kesehatan harus memberikan asupan nutrisi yang cukup untuk ibu/ pasien tersebut."


Irsa Alfiani

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu dilakukan petugas kesehatan saat pengelolaan pasien inpartu adalah dengan melakukan pemantauan partograf. Beberapa diantaranya yang perlu dilakukan antara lain:
1. Kemajuan persalinan, dengan memantau pembukaan serviks, turunnya janin, dan menghitung adanya kontraksi
2. Keadaan janin, dengan memantau frekuensi jantung, warna, jumlah, dan lamanya ketuban pecah
3. Keadaan ibu, dengan memantau TTV yaitu, nadi, tekanan darah, suhu, pengeluaran urin, obat-obatan, dan cairan IV.
Selain pemantauan partograf, petugas kesehatan juga harus memperhatikan respon dan kondisi psikologis dari pasien, sehingga petugas kesehatan bisa memberikan dorongan untuk pasien."


Intan Rulinita Sari

pada : 14 March 2017


"Hal yang harus diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola ibu inpartu
1. Pantau tanda tanda vital. Peningkatan tekanan darah pada saat inpartu dapat menyebabkan preeklamsia.
2. Menjaga kenyamana pasien. Jika pasien merasa sangat kesakitan anjurkan perubahan posisi yang nyaman, anjurkan untuk melakukan teknik pernapasan dengan menarik nafas panjang lalu menahannya sebentar kemudian lepaskan. Ajarkan pada keluarga untuk menggosok punggung ibu.
3. Anjukan aktivitas yang dapat membantu ibu hamil mengalihkan perhatiannya seperti berjalan-jalan, membaca atau mendengarkan musik, atau melatih teknik-teknik relaksasi pernapasan.
4. Perhatikan asupan dan keluaran cairan selama proses persalinan. Perhatikan pula asupan makanan agar pasien mempunyai tenaga pada saat mengejan.
6. Berikan dukungan dan keyakinan pada pasien jika pasien tampak cemas"


Ahmad Putro Pramono

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu:
1) Menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai dengan memperhatikan kebutuhan ibu selama proses persalinan.
2) Mempersiapkan ruangan yang hangat dan bersih serta nyaman untuk persalinan dan kelahiran bayi.
3) Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang diperlukan dan pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang diperlukan serta dalam keadaan siap pakai pada setiap persalinan dan kelahiran bayi.
4) Mempersiapkan persiapan rujukan bersama ibu dan keluarganya. Karena jika terjadi keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas yang lebih memadai dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayinya. Apabila itu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi asuhan yang telah diberikan.
5) Memberikan asuhan sayang ibu, seperti memberi dukungan emosional, membantu pengaturan posisi ibu, memberikan cairan dan nutrisi, memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi secara teratur, serta melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan teknik pencegahan infeksi."


Istinur Alifah

pada : 14 March 2017


"Aspek yang perlu diperhatikan oleh petugas kesehatan dalam mengelola pasien inpartu antara lain :
Managemen Fisik
1. Tawarkan cairan klien dan es chip untuk membasuh keringat klien.
2. Memberikan perawatan mulut.
3. Membantu klien dengan sering merubahan posisi.
4. Mendorong relaksasi otot tertentu dan penggunaan effleurage.
5. Sarankan penggunaan kain lap dingin di dahi atau tengkuk leher.
6. Memberikan dorongan dan pujian.
7. Palpasi kandung kemih distensi dan mendorong buang air kecil setiap 2 jam.
8. Berikan counterpressure ke daerah sacrococcygeal.
9. Membantu klien dalam berjalan dan menggunakan kamar mandi.
10. Tawarkan klien terapi komplementer seperti romaterapi, pijat, penggunaan bola lahir, hidroterapi, dan terapi musik (Zwelling, Johnson, & Allen, 2006)
Lingkungan
Suasana yag rileks dan bernuansa rumah akan sangat membantu ibu untuk merasa nyaman dalam menghadapi persalinan. Selain itu ruangan tersendiri (1 pasien/1 ruang) dan kedap suara dapat menjaga privasi ibu (terutama pada ibu pemberian inisiasi ASI sejak dini) dan mencegah peningkatan kecemasan ibu. Lingkungan juga memiliki hubungan positif terhadap lingkungan. Lingkungan yang ramai dan gaduh akan meningkatkan persepsi nyeri.
Mobilitas
Pada umumnya ibu akan mengalami rasa nyeri akibat kontraksi pada fase kala I. Mulai dari nyeri ringan sampai dengan nyeri yang tak tertahankan. Rasa nyeri ini yang pada umumnya membuat ibu enggan untuk merubah posisi. Maka dari itu, diusahakan ibu didorong untuk tetap bergerak, sebab persalinan akan berjalan lebih cepat dan ibu akan merasa dapat menguasai keadaan. Terutama jika ibu didorong untuk berusaha berjalan (bila memungkinkan) atau merubah posisi tidur.
Dukungan Sosial
Dukungan sosial yang diterima oleh individu akan berpengaruh bagi individu tersebut dalam mengurangi kecemasan, karena pada saat inidividu yakin bahwa ia mempunyai teman dan ada dukungan dari lingkungannya maka keyakinan untuk dapat mengurangi kecemasan akan meningkat.
Dukungan sosial pada ibu inpartu diharapkan dapat membantu mengatasi perubahan fisik maupun psikologis yang terjadi, sehingga pada diri wanita hamil dapat menyesuaikan diri dengan lebih baik selam periode kehamilan.
"


Ria Restu Resmi Rahayu

pada : 14 March 2017


"Pengkajian
Mengumpulkan data yang akan menentukan langkah pengambilan keputusan, sehingga kelengkaan data sesuai dengan kasus yang dihadapi akan mementukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya. Meliputi data subjektif, objektif, dan hasil pemeriksaan.

Kala I
Petugas kesehatan harus memperhatikan kontraksi yang dialami oleh ibu, diantaranya intensitas kontraksi otot polos dan frekuensi his.
Pada pemeriksaan dalam yang harus diperhatikan adalah apakah ada lendir yang bercampur darah, cairan ketuban, atau darah yang keluar.
Mengatur posisi nyaman ibu
Penerapan prinsip pencegahan infeksi
Memberikan dukungan emosional kepada ibu

Kala II
Memeriksa nadi ibu setiap 30 menit DAN DJJ setiap 5-10 menit
Memantau frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
Memenuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi maupun keinginan ibu
Memeriksa penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen setiap 30 menit dan pemeriksaan dalam setiap 60 menit
Putaran paksi luar segera setelah bayi lahir

Kala III
Apakah ketika plasenta lahir disertai darah atau tidak

Kala IV
Tidak ada perdarahan pervagina
Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
Luka di perinium harus dirawat dan tidak ada hematoma
Memonitor keadaan umum ibu dan bayi"


Diana Nurani Rokhmah

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien inpartu yaitu kondisi fisik dan psikologis serta menerapkan asuhan sayang ibu dan anak. Pada kondisi fisik yang perlu diperhatikan yaitu kondisi umum, ttv dan tanda-tanda persalinan seperti adanya perdarahan, mengkaji his dan pembukaan serviks. Pada keadaan psikologis yang perlu diperhatikan yaitu ketakutan serta kecemasan ibu dengan memberikan dukungan emosional"


Aviati Faradhika

pada : 14 March 2017


"Setelah mendapatkan materi perkuliahan tentang asuhan keperawatan pada persalinan, peran perawat selama proses inpartu adalah:
1. Memberikan asuhan keperawatan sesuai MK yang muncul di setiap Kala.
2. Membantu proses persalinan
3. Memberikan perawatan saat bayi telah lahir.

Asuhan keperawatan pasca persalinan diperlukan untuk meningkatkan status kesehatan ibu dan anak. Peran perawat pada perawatan bayi setelah lahir (menghisap lendir, perawatan tali pusat, menentukan apgar score, memandikan bayi, menimbang berat badan (BB) mengukur panjang badan (PB), lingkar kepala, serta lingkar dada bayi) sangat diperlukan.

Peran perawat juga sangat penting saat pre-persalinan dan pasca persalinan. Perawat dapat membantu mengedukasi serta mulai melakukan pengkajian sejak saat ibu datang ke klinik.

Aviati Faradhika
NIM: 131411131039
A3/A2014
"


Annisa Mufidah

pada : 14 March 2017


"menurut saya, hal yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien inpartu adalah hasil anamnesa, hasil pemeriksaan fisik, dan respon pasien. Dari hasil anamnesa, perawat dapat mengetahui riwayat-riwayat kesehatan dan kehamilan yang dimiliki pasien sehingga dapat membantu menentukan asuhan keperawatan yang memang dibutuhkan pasien. Seperti halnya anamnesa, hasil pemeriksaan fisik juga harus diperhatikan karena akan sangat berguna untuk menentukan masalah yang dialami pasien selama proses kehamilan itu serta menentukan asuhan keperawatan juga. Selain itu, dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik perawat dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi tertentu selama kehamilan serta mencegah adanya komplikasi-komplikasi kehamilan. Kemudian perawat juga harus memperhatikan respon pasien terhadap kehamilannya karena pada umumnya pasien inpartu pasti mengalami gejolak-gejolak psikologis sehingga membutuhkan pendampingan dan support baik dari keluarganya maupun dari tenaga kesehatan."


Fitriana Nur Aidah

pada : 14 March 2017


"Yang harus diperhatikan pada klien inpartu adalah :
1. Kesiapan dari klien dan pengetahuan klien mengenai apa yang dialaminya
2. Manajemen nyeri yang dialami klien
3. Tingkat kecemasan dan koping klien terhadap kecemasan yang terjadi
4. Asupan nutrisi klien
5. Mobilisasi klien dan juga posisinya
6. Dukungan dari lingkungan yang diberikan pada klien"


Andi Budrah Benazhir Anggy

pada : 14 March 2017


"Dalam pelayanan keperawatan baik keperawatan komunitas maupun keperawatan maternitas perlu dipertimbangkan dilakukannya penyuluhan bagi ibu bersalin dalam upaya mengatasi masalah yang berhubungan dengan persalinan serta faktor yang mempengaruhinya. Informasi yang diberikan akan menggantikan ketidaktahuan ataupun memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan-perubahan yang mempengaruhi fisik maupun psikologisnya.

1. Melakukan pengkajian pada ibu
2. menjelaskan prosedur persalinan
3. Menyiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
4. Menyiapkan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan esensial pada persalinan.
5. Menyiapkan rujukan, kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya.
6. Memberikan asuhan sayang ibu selama persalinan.
7. Memberikan asuhan sayang bayi
8. Pencegahan Infeksi"


Nur Puji Winasis

pada : 14 March 2017


"Dari sejak masa kehamilan, perawat sudah dapat mengambil peran dalam membantu ibu hamil, baik dari segi kesehatan fisik, maupun psikologi. Pengkajian sebaiknya dilakukan sedini mungkin, untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kedaruratan menjelang/selama persalinan. Dalam pelayanan keperawatan, baik keperawatan komunitas maupun keperawatan maternitas, perawat perlu melakukan penyuluhan bagi ibu bersalin dalam upaya mengatasi masalah yang berhubungan dengan persalinan serta faktor yang mempengaruhinya. Informasi yang diberikan akan menggantikan ketidaktahuan ataupun memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan-perubahan yang mempengaruhi fisik maupun psikologisnya.

Lalu, apa peran perawat saat masa inpartu? Seperti telah dijelaskan Bu Alit saat perkuliahan, masa inpartu dibagi menjadi beberapa fase, atau yang disebut Kala. Peran perawat dalam Kala satu ke Kala lainnya, antara lain:

Kala 1
-adanya bloody show
-mengatur posisi ibu agar kenyamanan terpenuhi
-menerapkan prinsip pencegahan infeksi

Kala 2
-memantau DJJ dan nadi ibu
-memeriksa penurunan kepala bayi
-putaran paksi luar segera setelah bayi lahir

Kala 3
-memeriksa adanya darah saat pengeluaran plasenta

Kala 4
-memonitor keadaan ibu dan bayi
"


yeni rahayu

pada : 14 March 2017


"menurut saya hal penting yang perlu diperhatikan yaitu kondisi pasien dan respon pasien. kondisi meliputi apakah terjadi kendala selama masa inpartu. respon pasien meliputi apakah pasien cemas atau ketakutan."


kartika harsaktiningtyas

pada : 14 March 2017


"al penting yang perlu kita perhatikan sebagai seorang perawat saat mengelola pasien inpartu yaitu kondisi fisik, psikologis dan ruangan yang nyaman. Bagaimana kebersihan alat-alat yang digunakan, dan juga mengkaji his dan serviks. Pada pasien inpartu tingkat kecemasan ibu meningkat yg diimbangi dengan rasa takut yang amat sangat. Maka dari itu kita juga harus memberi dukungan dan motivasi pada ibu"


Desy Igacarryna

pada : 14 March 2017


"Tindakan yang perlu dilakukan adalah :
1. Memperhatikan kesabaran parturien
2. Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, temperatur dan pernapasan berkala sekitar 2-3 jam
3. Pemeriksaan djj setiap ½ - 1 jam
4. Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong
5. Memperhatikan keadaan patologis :
§ Meningkatnya lingkaran Bandle
§ Ketuban pecah sebelum waktu atau disertai bagian janin yang menumbung
§ Perubahan djj
§ Pengeluaran mekonium pada letak kepala
§ Keadaaan his yang bersifat patologis
§ Paerubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin
6. Parturien tidak diperkenankan mengejan
(Manuaba, 1998 : 175)"


Elvanda Vandina Romanda

pada : 14 March 2017


"Hal-hal yang perlu diperhatikan saat proses inpartu

1. Mengatur Posisi
Carilah posisi yang paling nyaman sesuai dengan waktunya dan perhatikan perbedaan tentang cara ibu hamil mengatasi nyeri persalinan. Pada tahap awal, ketika kontraksi relatif masih ringan usahakan untuk berjalan, duduk, bergoyang atau berendam. Dengan meningkatnya kontraksi, duduk, bergoyang (di kursi goyang) atau berbaring kerap kali merupakan hal paling nyaman. Rasa nyeri yang paling berat adalah pada punggung (sakit punggung), dan ini sering bisa diredakan dengan duduk tegak, dengan lengan memeluk pendamping, atau dengan mengambil posisi merangkak. Posisi perlu dirubah-rubah selama proses persalinan, hal ini baik untuk memperbaiki peredaran darah dan membantu pencegahan kelelahan otot.

2. Titik Pusat Perhatian
Bawalah sesuatu dari rumah sebagai titik pusat perhatian secara visual selama kontraksi. Foto atau gambar yang membuat pikiran menjadi tenang merupakan pilihan yang baik. Sering kali sangat besar manfaatnya mendengarkan musik dengan lagu-lagu kesayangan anda. Banyak ibu hamil tidak menggunakan titik pusat perhatian, lebih suka memejamkan mata atau memusatkan perhatian pada penolong persalinan. Tetapi anda mungkin akan mendapat rasa nyeri berkurang ketika anda mengalihkan perhatian ke titik pusat perhatian, maka pilihlah salah satu untuk menyertai anda dalam proses persalinan.

3. Kompres
Pada awal persalinan kehangatan terasa lebih nyaman pada otot yang bekerja keras. Gunakanlah waslap yang dicelupkan dalam air hangat dan letakkan pada punggung, leher, atau perut. Kemudian setelah mulai kontraksi pada tahap transisi atau ketika mengedan membuat ibu hamil merasa kepanasan, lakukan kompres dingin pada dahi dan perut akan terasa menyejukan . Kompres ini harus sering diganti

4. Pijatan
Pijatan pada otot kerap kali akan sangat efektif dalam proses persalinan. Ini terutama sangat membantu dalam mengurangi sakit punggung dan membantu otot untuk relaksasi dari ketegangan pada akhir kontraksi. Karena pijatan hanya baik kalau terasa enak dan nyaman, maka ibu hamil dan pendampingnya perlu berkomunikasi mengenai bagian mana yang terasa nyaman kalau dipijat dan mana yang tidak. Tapi ada juga beberapa ibu hamil dalam proses persalinan ada yang sama sekali tidak mau disentuh, namun meskipun demikian mereka masih memerlukan dukungan emosional. Sering sekali ibu hamil sangat menderita oleh nyeri persalinan di daerah punggung bagian bawah. Kalau hal ini terjadi tekanan yang kuat dan tetap terasa paling enak diberikan dengan ibu jari atau pangkal telapak tangan di tengah di atas pantat.

5. Usapan atau Sentuhan
Banyak ibu hamil dalam proses persalinan merasa berkurang rasa nyerinya karena sapuan lembut pada perut selama kontraksi. Hal ini bisa dilakukan sendiri oleh ibu hamil sendiri atau pendampingnya. Gunakanlah satu atau dua tangan, kemudian sapulah permukaan perut dengan ujung jari secara lembut. Pergerakannya melingkari di sekeliling pusar.

6. Menjaga Mulut Tetap Basah
Ketika proses persalinan berlangsung, mulut dan bibir akan terasa kering karena nafas yang berat selama kontraksi. Es batu atau minuman segar bisa membantu menyejukkan mulut dan memberikan sedikit gula guna menambah energi"


Gilang Dwi Kuncahyo

pada : 14 March 2017


"Yang perlu diperhatikan saat inpartus yaitu pada saat menjelang akhir kala I, meski ibu hamil merasakan mulas yang luar biasa, ibu hamil masih b;om boleh mengejan. Pada saat ini mulut rahim belum membuka sempurna bila anda mengejan. Sebab saat ini mulut rahim belum membuka membengkak dan terjadi perobekan.
yang perlu diperhatikan lagi adalah posisi bersalin seperti posisi litotomi, posisi duduk, atau ara berbaring :Menurut waleher : di tepi tempat tidur, Menurut Tjeenk-Willink : memakai bantal, Menurut Jonges : untu memperlebar pintu bawah pinggul, Menurut posisi sims : posisi miring

1. Pada Kala I
Pekerjaan penolong ( dokter, bidan dan penolong lainnya ) dalam kala I adalah mengawasi wanita in-partu sebaik-baiknya serta menanamkan semangat diri kepada wanita ini bahwa proses persalinan adalah fisiologis.Tanamkan rasa percaya dan percaya pada menolong.
2. Kala II
Disamping his wanita tersebut harus dipimpin meneran pada waktu ada his.Diluar his denyut jantung janin harus sering diawasi.
3. Kala III
Pengawasan pada kala pelepasan dan pengeluaran uri ini cukup penting karena kelalaian dapat menyebabkan resiko pendarahan yang dapat membawa kematian.Kala ini berlangsung mulai dari bayi lahir sampai uri keluar lengkap. Biasanya uri lahir spontan dalam 15-30 menit,dapat ditunggu sampai 1 jam tapi tidak boleh ditunggu bila terjadi banyak perdarahan
4. Kala IV
Darah yang keluar harus diakar sebaik-baiknya, kehilangan darah pada persalinan biasanya disebkan oleh luka pada pengelepasan uri dan robekan-robekan pada serviks dan prenium. Jumlah perdarahan normal 250 cc atau 100-300 cc. Bila mencapai 500 cc dianggap perdarahan abnormal.

Sumber :
Wiknjosastro, Prof. Dr. Hanifa, SPOG. Ilmu Kebidanan.Jakarata : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2007.

Burhan. Pedoman Praktis Perawatan Dalam Kelahiran Normal. Jakarta : EGC. 2003.
"


Faizah Maulidiyah

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien inpartu yaitu kondisi fisik dan psikologis serta menerapkan asuhan sayang ibu dan anak.

1) Kebutuhan fisik
a. kebersihan dan kenyamanan ibu dalam inpartu akan merasa sangat panas dan berkeringat oleh karena itu ibu akan membutuhkan kesempatan untuk mandi atau bersiram, hal ini dapat dilakukan bila ibu masih memungkinkan untuk berjalan. 
b. Posisi ialah dalam kehamilan ibu sudah aktif berproses dalam menghadapi persalinan misalnya
ibu sudah senam, latihan jalan-jalan, jongkok.
c. kontak fisik ialah selama proses persalinan ibu tidak suka dengan bercakap-cakap tetapi ibu akan merasa nyaman dengan kontak fisik. 
d. Perawatan kandung kemih ialah keinginan untuk berkemih pada ibu inpartu sering terganggu dengan adanya kontraksi, oleh karena itu pengamatan terhadap kandung kemih haruslah diperhatikan karena dapat menghambat turunnya bagian terendah janin dan kontraksi uterus. Setiap 4 jam kandung kemih harus 

2). kebutuhan Psikologi 
Tanpa tergantung pada pengalaman pasien sebelumnya apakah ia adalah pasien, bidan atau dokter, kita harus memastikan bahwa pasien memahami apa yang tengah terjadi dalam proses persalinan, perawatan secara umum yang dapat diberikan antara lain: (Farrer, 2001)
a. Kenyamanan yaitu Ranjang harus dijaga agar tetap kering, Cairan ketuban dapat mengalir terus. Perawatan mulut perlu diperhatikan, khususnya jika asupan cairan per oral dibatasi. tangan serta wajahnya pasien sering dibersihkan, dan pembasuhan vulva dilakukan setiap 4 jam sekali.
b. Aktivitas yaitu biasanya ibu hamil dianjurkan untuk berjalan-jalan sampai proses persalinannya memasuki stadium dimana ibu, lebih aman atau nyaman berbaring ditempat tidur. 
c. Cairan yaitu catatan asupan dan keluaran cairan terus dibuat selama proses persalinan.
d. Mikturisi yaitu keluaran urine harus dicatat
e.Makanan yaitu penyerapan makanan dari lambung dan usus akan mengalami pelambatan yang cukup berarti selama persalinan.
"


Faizah Maulidiyah

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien inpartu yaitu kondisi fisik dan psikologis serta menerapkan asuhan sayang ibu dan anak.

1) Kebutuhan fisik
a. kebersihan dan kenyamanan ibu dalam inpartu akan merasa sangat panas dan berkeringat oleh karena itu ibu akan membutuhkan kesempatan untuk mandi atau bersiram, hal ini dapat dilakukan bila ibu masih memungkinkan untuk berjalan. 
b. Posisi ialah dalam kehamilan ibu sudah aktif berproses dalam menghadapi persalinan misalnya
ibu sudah senam, latihan jalan-jalan, jongkok.
c. kontak fisik ialah selama proses persalinan ibu tidak suka dengan bercakap-cakap tetapi ibu akan merasa nyaman dengan kontak fisik. 
d. Perawatan kandung kemih ialah keinginan untuk berkemih pada ibu inpartu sering terganggu dengan adanya kontraksi, oleh karena itu pengamatan terhadap kandung kemih haruslah diperhatikan karena dapat menghambat turunnya bagian terendah janin dan kontraksi uterus. Setiap 4 jam kandung kemih harus 

2). kebutuhan Psikologi 
Tanpa tergantung pada pengalaman pasien sebelumnya apakah ia adalah pasien, bidan atau dokter, kita harus memastikan bahwa pasien memahami apa yang tengah terjadi dalam proses persalinan, perawatan secara umum yang dapat diberikan antara lain: (Farrer, 2001)
a. Kenyamanan yaitu Ranjang harus dijaga agar tetap kering, Cairan ketuban dapat mengalir terus. Perawatan mulut perlu diperhatikan, khususnya jika asupan cairan per oral dibatasi. tangan serta wajahnya pasien sering dibersihkan, dan pembasuhan vulva dilakukan setiap 4 jam sekali.
b. Aktivitas yaitu biasanya ibu hamil dianjurkan untuk berjalan-jalan sampai proses persalinannya memasuki stadium dimana ibu, lebih aman atau nyaman berbaring ditempat tidur. 
c. Cairan yaitu catatan asupan dan keluaran cairan terus dibuat selama proses persalinan.
d. Mikturisi yaitu keluaran urine harus dicatat
e.Makanan yaitu penyerapan makanan dari lambung dan usus akan mengalami pelambatan yang cukup berarti selama persalinan.
"


Eva Dwi Agustin

pada : 14 March 2017


"Yang harus diperhatikan dalam mengelola pasien inpartu yaitu pertama kita harus memastikan apakah benar-benar sudah terjadi tanda-tanda persalinan, yaitu :
1. Munculnya HIS yang kuat dan teratur
2. Terdapat pembukaan atau dilatasi serviks
3. Keluarnya lendir yang disertai darah (bloody show)
Pada proses inpartu sendiri dibagi menjadi 3 tahap. Pada kala I serviks membuka dari 0-10 cm. Kala I dinamakan juga dengan kala pembukaan. Pada kala I ini dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif. Kala II, merupakan proses pengeluaran karena kekuatan his dan kekuatan mengedan, jalan di dorong keluar sampai lahir. Kala III atau disebut juga kala Urie, plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan.
Pada saat pertama kali ibu datang, setelah kita menentukan adanya tanda-tanda inpartu, kita harus menanyakan usia kehamilan, apakah pada usia yang matur atau masih prematur. Kita juga perlu mengkaji ini merupakan kehamilan ke berapa. Karena semakin sering melahirkan, proses kelahiran akan relatif semakin cepat. Dari situ kita dapat memperkirakan tindakan-tindakan yang mungkin kita lakukan sebagai tindakan antisipasi.
Pada proses tersebut kita harus mengobservasi ketat keadaan ibu dan janin, bagaimana TTV ibu dan janin, sejak kapan terjadinya pecah ketuban, serta IV line yang terpasang, jangan sampai ibu mengalami dehidrasi. Perhatikan respon ibu terhadap his yang terjadi, lakukan vagina tusae untuk menentukan pembukaan ke berapa serta memperkirakan waktu kelahiran. Perhatikan juga komplikasi yang mungkin terjadi, jika beresiko tinggi dalam persalinan spontan, dapat dilakukan sectio cesaria cito (saat datang).
Pada saat proses inpartu, selain memperhatikan pada fisik, kita juga harus memperhatikan kondisi psikologis ibu. Diharapkan saat menjalani proses melahirkan, ibu sudah mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Informasi tentang persalinan. Diharapkan wanita hamil sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi persalinan. Informasi ialah idealnya seorang wanita hamil sudah melakukan hubungan dengan penolong persalinan tertentu agar mendapatkan informasi secara konsisten dan wanita tersebut akan merasa rileks. Diupayakan informasi tersebut diberikan secara informal dan rileks, dan informasi diberikan secara individu.
b. Mengurangi kecemasan. Walaupun banyak wanita yang mungkin akan merasa sedikit takut tentang beberapa aspek dan kehamilan dan persalinan, tetapi ada juga wanita yang tidak merasa takut akan kehamilan dan persalinan. Sering wanita hamil menerima informasi yang salah dan tepat pada saat ia dalam keadaan yang rentan, sehingga akan menghantui dan menyebabkan rasa takut meningkat. Oleh karena itu disarankan pada semua wanita hamil untuk mencari informasi pada sumber yang jelas.
c. Keikutsertaan dalam perencanaan. Rencana persalinan dibuat oleh wanita hamil bersama bidan yang akan memberi pertolongan pada saat persalinan. Pasangan-pasangan yang bisa berpartisipasi dalam perencanaan asuhan yang dikehendaki akan lebih tenang dalam menghadapi persalinan.

Mengingat lama dan sakitnya proses inpartu, banyak hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kenyamanan dan mendistraksi rasa sakit yang dirasakan ibu. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :

a. kebersihan dan kenyamanan ibu dalam inpartu akan merasa sangat panas dan berkeringat oleh karena itu ibu akan membutuhkan kesempatan untuk mandi atau bersiram, hal ini dapat dilakukan bila ibu masih memungkinkan untuk berjalan. Tetapi bagi ibu yang sudah tidak mungkin untuk melakukan, maka peran petugas dan keluarga untuk membantunya dengan dengan menyeka dengan waslap yang dibasahi dengan air dingin pada muka, leher dan tangan serta bagian kemaluan dibersihkan dengan kapas lembab. Demikian juga baju yang basah karena keringat atau air ketuban perlu diganti dengan yang bersih.
b. Posisi dalam kehamilan ibu sudah aktif berproses dalam menghadapi persalinan misalnya ibu sudah senam, latihan jalan-jalan, jongkok, ibu akan menggunakan posisi tidur senyaman mungkin yang telah dilakukan selama kehamilan seperti jongkok. Hal ini akan meningkatkan keinginan merubah posisi pada saat persalinan karena sudah dilatih pada saat hamil. Hal ini juga merupakan satu upaya untuk mengatasi kontraksi bila dibandingkan dengan ibu yang tidak pernah melatih pada saat hamil. Tempat tidur untuk persalinan dirancang secara khusus yang dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan.
c. kontak fisik selama proses persalinan, ibu akan merasa nyaman dengan kontak fisik. Keluarga hendaknya didorong untuk mau berpegangan tangan, menggosok-gosok punggungnya, menyeka wajahnya dengan air dingin menggunakan waslap atau dengan mendekapnya atau mengelus-elus perutnya, memijat kaki atau teknik-teknik lain yang serupa.
d. Pijatan, ibu biasanya mengeluh sakit pinggang atau nyeri selama persalinan. Mungkin pijatan akan sangat meringkan keluhan. Bidan/ keluarga dapat melakukan pijatan melingkar di daerah lumbosarkalis, menekan daerah lutut dengan posisi ibu duduk, atau mengelus-elus di daerah perut.
"


Marissa ulfah

pada : 14 March 2017


"Hal yang perlu dilakukan petugas kesehatan khususnya perawat pada saat merawat pasien inpartu yaitu, kondisi pasien baik fisik maupun psikologi. Hal-hal tersebut beberapa diantaranya adalah:
1. Melakukan pengkajian pada ibu seperti ttv, tanda-tanda persalinan seperti adanya pendarahan atau pecahnya ketuban dan lain sebagainya. Hal itu dilakukan secara berkala untuk memantau dan menjaga kondisi ibu dan bayi agar tetap stabil.
2. petugas kesehatan perlu menjelaskan atau mendeskripsikan apa saja yang akan dilakukan saat persalinan berlangsung guna mengurangi kecemasan pada ibu atau keluarga.
3. Pasien harus ditempatkan di ruang yang tertutup atau memiliki privasi serta ruangan yang bersih dan layak untuk dilakukannya persalinan.
4. Menyediakan alat, bahan, dan obat-obatan yang dibutuhkan saat persalinan.
5. Petugas perlu menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan termasuk dokumen untuk direncanakannya rujukan guna mengantisipasi jika perlu dilakukannya rujukan ke rumah sakit atau tempat persalinan yang sesuai jika terjadi hal yang membutuhkan perawatan lebih serius.
6. Pasien atau ibu diberikan asuhan yang tepat selama persalinan, seperti:
- Memberikan dukungan emosional.
- Membantu pengaturan posisi.
- Memberikan cairan dan nutrisi.
- Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur.
- Pencegahan infeksi.
7. Memberikan Asuhan kepada bayi
8. Petugas perlu melakukan pencegahan infeksi dengan melakukan tindakan sesuai prosedur dan menggunakan alat yang tepat serta memberikan informasi kepada pasien atau keluarga apa saja yang perlu dilakukan sebagai contoh, mencuci tangan jika terkena cairan tubuh pasien."


Yolanda Eka Maulida

pada : 14 March 2017


"Inpartu adalah proses seorang wanita yang sedang dalam keadaan persalinan. (wiknjorastro, 2005). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat proses inpartu adalah pemantauan kondisi umum yang meliputi keadaan fisiologis dan psikologis.Dipantau secara berkala terkait tanda vital ibu yang meliputi suhu, denyut nadi dan tekanan darah ibu dievaluasi setidaknya setiap 4 jam. Pemantauan kesejahteraan janin selama persalinan. Untuk mendapatkan hasil akhir kehamilan yang optimal, harus dibuat program yang tersusun rapi untuk memberikan surveilans ketat tentang kesejahteraan ibu dan janin selama persalinan. Semua observasi harus dicatat secara cepat. Frekuensi, intensitas dan lamanya kontraksi uterus, serta respon denyut jantung janin terhadap kontraksi tersebut harus diperhatikan benar.
Saat akan memasuki proses persalinan pasti ibu akan merasa sakit atau nyeri saat terjadinya his.His merupakan kontraksi pada uterus yang mana his ini termasuktanda-tanda persalinan yang mempunyai sifat internitten sehingga para tenaga kesehatan perlu membimbing teknik relaksasi untuk meminimalkan rasa nyeri pasien.
Saat persalinan akan berlangsung, ibu dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemihnya. Tenaga kesehatan perlu memeriksa kandung kemih pada saat memeriksa denyut jantung janin (saat palpasi dilakukan) tepat di atas simpisis pubis untuk mengetahui apakah kandung kemih penuh atau tidak. Jika kandung kemih penuh maka akan :
1. Memperlambat turunnya bagian terbawah janin dan memungkinkan menyebabkan partus macet
2. Menyebabkan ketidaknyamanan
3. Meningkatkan risiko perdarahan pasca persalinan yang disebabkan atonia uteri
4. Meningkatkan risiko infeksi saluran kemih saat persalinan
Disaat persalinan berlangsung tenaga kesehatan tidak dianjurkan katerisasi kandung kemih karena dapat menimbulkan rasa sakit, risiko infeksi dan perlukaan pada perkemihan
Selain itu perlu diperhatikan kondisi psikologis pasien seperti pada ibu bersalin sering merasa cemas, memikirkan hal-hal yang akan terjadi antara lain perasaan sakit, takut menghadapi persalinan, penolongnya sabar tidak, apakah anaknya cacat. Banyak pikiran yang menghantui selama persalinan. Hal ini dapat menambah rasa sakit, oleh karena itu tenaga kesehatan perlu memberi dukungan secara psikologis dengan memberikan stimulus positif dan rasa kepercayaan diri pasien akan proses persalinan. Berikan informasi informasi positif terkait proses persalinan agar ibu semakin tenang

"


Annisha Zuchrufiany

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien inpartu yaitu kondisi fisik dan psikologis serta menerapkan asuhan sayang ibu dan anak. Pada kondisi fisik yang perlu diperhatikan yaitu kondisi umum, tanda-tanda vital dan tanda-tanda persalinan seperti adanya perdarahan, mengkaji his dan pembukaan serviks. Pada keadaan psikologis yang perlu diperhatikan yaitu ketakutan serta kecemasan ibu dengan memberikan dukungan emosional
1. Melakukan pengkajian pada ibu. Melakukan pemeriksaan pada ibu pada setiap kala yang berlangsung. Mengisi partograf untuk memantau keadaan bayi dan ibu.
2. menjelaskan prosedur persalinan, hal-hal yang perlu di persiapkan saat persalinan guna mengurangi kecemasan ibu terhadap kurangnya informasi.
3. Menyiapkan Ruangan untuk Persalinan dan Kelahiran Bayi. Ruangan dan lingkungan yang hangat, bersih dan nyaman serta menghormati privasi.
4. Menyiapkan Perlengkapan, Bahan-Bahan dan Obat-Obatan Esensial pada persalinan.
5. Menyiapkan Rujukan
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarganya. Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai dapat membahayakan jiwa ibu dan/atau bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
6. Memberikan Asuhan Sayang Ibu selama Persalinan. Asuhan sayang ibu selama persalinan termasuk :
a. Memberikan dukungan emosional.
b. Membantu pengaturan posisi.
c. Memberikan cairan dan nutrisi.
d. Keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur.
e. Pencegahan infeksi.
7. Memberikan Asuhan sayang bayi
8. Pencegahan Infeksi
• Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan peralatan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan. Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir.
• Ruangan yang hangat dan bersih, memiliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dari tiupan angin.
• Sumber air bersih yang mengalir untuk cucci tangan dan mandi ibu sebelum dan sesudah melahirkan.
• Air disinfeksi tingkat tinggi (air yang ddididihkan dan didinginkan) untuk membersihkan vulva dan perineum sebelum periksa dalam selama persalinan dan membersihkan perineum ibu setelah bayi lahir.
• Air bersih dalam jumlah yang cukup, kloriin, deterjen, kain pembersih, kain pel dan sarung tangan karet untuk membersihkan ruangan, lantai, perabotan, dekontaminasi dan proses peralatan.
"


Sacharisa Agape Sudiani

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang diperlukan untuk mengelola pasien inpartu dengan memperhatikan kondisi fisik dan psikologis serta memberikan asuhan sayang ibu dan anak. Untuk mengelola kondisi fisik ibu dengan inpart adalah sebelum persalinan dilakukan pemantauan tanda-tanda vital setiap 4 jam sekali. Jika ketuban pecah dengan rentang waktu yang selisihnya cukup lama dengan awitan persalinan, maka perlu pemeriksaan suhu tubuh setiap jam. Selanjutnya, pada kala I juga perlu dilakukan pemeriksaan vagina untuk mengetahui status serviks dan station serta mengetahui bagian terbawah. Bila selaput ketuban pecah, pemeriksaan hendaknya diulang secara cepat jika pada pemeriksaan sebelumnya kepala janin belum cakap(engaged). Pada kondisi psikologis perlu diperhatikan kecemasan dan ketakutan ibu untuk menghadapi persalinan dengan memberi dukungan dan motivasi.
Perlu juga untuk mengisi partograf untuk memantau kondisi ibu inpartu, menjelaskan prosedur dalam persalinan untuk mengurangi ketakutan yang dihadapi terhadap kurangnya pengetahuan, mempersiapkan ruangan yang nyaman dan terjaganya privasi, menyiapkan alat dan obat-obatan yang diperlukan dalam persalinan, dan juga perlunya memperhatikan pencegahan infeksi dengan cara menjaga kesterilan alat dan menganjurkan ibu untuk mandi pada saat sebelum bersalin.
"


Santi Dwi Lestari

pada : 14 March 2017


"Hal yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien inpartu yaitu kondisi fisik dan psikologis serta menerapkan asuhan sayang ibu dan anak.
1. Melakukan pengkajian kepada ibu ataupun keluarga
2. Melakukan analisa dari riwayat kesehatan, riwayat kehamilan dan persalinan yang dahulu, hasil pemeriksaan fisik dan laboratrium
3. Memantau kebutuhan nutrisi dan cairan
4. Memantau apakah ada tanda bahaya atau komplikasi
5. Memantau keadaan janin yang meliputi frekwensi DJJ, warna, jumlah dan lamanya ketuban pecah, dan molase kepala janin
6. Memantau TTV Ibu
7. Menjelaskan prosedur persalinan, hal-hal yang perlu di persiapkan saat persalinan guna mengurangi kecemasan ibu terhadap kurangnya informasi.
8. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
9. Menyiapkan ruang persalinan. Ruangan dan lingkungan yang hangat, menghormati privasi, hangat dan bersih.
10. Menyiapkan perlengkapan yang sesuai dan obat obat yang diperlukan
11. Melakukan pemeriksaan pada ibu pada setiap kala yang berlangsung. Mengisi partograf untuk memantau keadaan bayi dan ibu.
Pengkajian pada kala I meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan TTV, pemeriksaan frekwensi DJJ, pemeriksaan kontraksi otot uterus, pemeriksaan dilatasi serviks, pemeriksaan penurunan presentasi dan pemeriksaan kondisi perineum.
Pengkajian pada kala II meliputi pemeriksaan TTV, pemeriksaan VT, pengkajian dan pemeriksaan tanda tanda kala 2.
Pengkajian kala III meliputi bagaimana kontraksi uterus, tanda tanda perdarahan, laserasi jalan lahir.
Pengkajian kala IV meliputi pemeriksaan TTV dan pemantauan tanda komplikasi
12. Memberikan asuhan sayang Ibu selama persalinan. Asuhan sayang ibu selama persalinan meliputi memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memfasilitasi keleluasaan ke kamar mandi secara teratur, pencegahan infeksi.
13. Memberikan asuhan sayang bayi
14. Melakukan bonding attachmen segera setelah bayi lahir
15. Menyiapkan rujukan
Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi tertulis semua asuhan dan perawatan dan hasil penilaian (termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk dibawa ke fasilitas rujukan.
16. Ajarkan cara pencegahan infeksi pada ibu dan keluarga
Anjurkan ibu untuk mandi pada awal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih, anjurkan mencuci tangan sesering mungkin, ajarkan cara mencuci tangan dengan benar,. anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir, ajarkan untuk mencuci tangan dan mandi dengan sumber air bersih yang mengalir."


M Tauvan R

pada : 14 March 2017


"Mengatur Posisi
Anjurkan ibu untuk mencoba posisi-posisi yang nyaman selama persalinan dan kelahiran. Anjurkan pula suami dan pendamping lainnya untuk membantu ibu berganti posisi. Ibu boleh berjalan, berdiri, duduk, jongkok, berbaring miring atau merangkak. Posisi tegak seperti berjalan, berdiri atau jongkok dapat membantu turunnya kepala bayi dan seringkali mempersingkat waktu persalinan. Bantu ibu untuk sering berganti posisi selama persalinan. Jangan membuat ibu dalam posisi terlentang, beritahukan agar ia tidak mengambil posisi tersebut.

Pemberian Cairan & Nutrisi
Anjurkan ibu untuk mendapat asupan (makanan ringan dan minun air) selama persalinan dan kelahiran bayi. Sebagian ibu masih ingin makan selama fase laten persalinan tetapi setelah memasuki fase aktif mereka hanya menginginkan cairan saja. Anjurkan anggota keluarga menawarkan ibu minum sesering mungkin dan makanan ringan selama persalinan.

Kamar Mandi
Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin selama persalinan. Ibu harus berkemih paling sedikit setiap 2 jam atau lebih sering jika terasa ingin berkemih atau jika kandung kemih dirasakan penuh. Periksa kandung kemih pada saat akan memeriksa denyut jantung janin (lihat/palpasi tepat di atas simfisi pubis untuk mengetahui apakah kandung kemih penuh). Anjurkan dan antarkan ibu untuk berkemih di kamar mandi. Jika ibu tidak dapat berjalan ke kamar mandi, berikan wadah penampung urin.
Pencegahan Infeksi
Anjurkan ibu untuk mandi pada awaal persalinan dan pastikan bahwa ibu memakai pakaian yang bersih. Mencuci tangan sesering mungkin, menggunakan peralatan steril atau disinfeksi tingkat tinggi dan sarung tangan pada saat diperlukan. Anjurkan anggota keluarga untuk mencuci tangan mereka sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan/atau bayi baru lahir.
"


Emha Rafi Pratama

pada : 14 March 2017


"Mulanya kita harus tahu terlebih dahulu apa itu Inpartu, yakni seseorang wanita yang sedang dalam persalinan. Petugas kesehatan harus tahu tindakan yg seharusnya dilakukan untuk mengelola pasien Inpartu, yaitu ruangan dan alat-alat yg steril, petugas yg sebelum dan sesudah melakukan tindakan selalu cuci tangan, memakai pakaian sesuai dengan SOP, itu semua untuk mencegah infeksi nosokomial. Arahkan suami untuk berada disamping ibu ketika proses persalinan sehingga dengan cara itu memberikan support pada si ibu. Petugas kesehatan juga perlu untuk selalu menjaga komunikasi terapeutik dengan harapan si ibu tidak terlalu traumatik dengan kejadian persalinannya. Sekian dari saya, terima kasih. "


Nurin Syarafina Islami

pada : 14 March 2017


"Hal penting yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu adalah kondisi fisik dan psikologisnya. Kondisi fisik pada pasien inpartu, perlu mengetahui fase fase dalam persalinan, yaitu fase pembukaan, fase pengeluaran, dan fase uri (janin lahir- plasenta lahir). Fase pembukaan (kala 1) dan fase pengeluaran (kala 2) yang sangat penting diperhatikan adalah HIS adekuat teratur (dipantau 30 menit setiap 10 menit berapa kali), tekanan air ketuban, bloody show (lendir bercampur darah), dan pembukaan serviks.
Pada kondisi psikologis petugas kesehatan memberikan dukungan dan informasi terkait proses persalinannya. Bentuk dukungan yang diberikan oleh petugas kesehatan saat proses persalinan menimbulkan dampak yang positif diantaranya dapat menurunkan kecemasan, menurunkan rasa sakit, menghindari stres dan trauma saat persalinan.
Selain memperhatikan kedua kondisi tersebut, pencegahan infeksi juga harus diperhatikan. Petugas kesehatan penting untuk menggunakan peralatan steril dan mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan kontak dengan ibu dan bayi baru lahir. Tindakan pencegahan infeksi ini harus diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru lahir, keluarga, penolong dan tenaga kesehatan lainnya dengan jalan menghindarkan transmisi penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur.
"


Astrid Anggreswari Nur Santoso

pada : 14 March 2017


"Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu diantaranya ialah :
1. Pengkajian untuk menentukan diagnosa apakah pasien memang akan mengalami persalinan sebenarnya (True Labor) atau hanya false labor. Untuk itu data yang mendukung bahwa itu adalah gejala True Labor, ialah :
• Adanya his yang adekuat dan teratur ( dimana his ini dominan terjadi di fundus)
• Interval his semakin singkat dengan intensitas yang semakin kuat
• Adanya rasa nyeri daerah tertentu, seperti abdomen, pinggang, simfisis pubis.
• Adanya dilatasi serviks
• Nyeri tidak hilang dengan pemberian sedasi
• Bloody show
2. Pada saat pasien memasuki KALA I (Fase Pembukaan, dimana timbul HIS pada segmen atas rahim), yang perlu diperhatikan ialah :
• Beri dukungan dan dengarkan keluhan ibu
• Bila ibu gelisah / kesakitan, manipulasi lingkungan agar mengurangi rasa sakit, seperti : biarkan ibu berganti posisi senyamannya, ajarkan teknik bernafas, masase daerah tertentu seperti punggung.
• Sarankan ibu untuk berkemih dan BAB terlebih dahulu sebelum masuk KALA II
• Berikan air minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
• Pantau menggunakan partograf beberapa parameter seperti : TTV, auskultasi DJJ, kontraksi uterus, kondisi perineum, oksitosi drip, obat & cairan IV/ oral.
• Persiapkan rujukan apabila ternyata terjadi komplikasi.
3. Pada saat pasien memasuki KALA II (Fase Pengeluaran), yang perlu diperhatikan ialah :
• HIS yang semakin kuat, pendek, dan saat di palpasi kepala janin kian turun kedalam panggul
• Ibu mempunyai keinginan mengejan
• Memposisikan ibu dalam posisi siap melahirkan
• Anjurkan ibu untuk cukup minum.
• Pimpin ibu mengejan saat ibu mempunyai dorongan yang kuat saat mengejan.
• Perbaiki cara mengejan apabila ibu salah.
• Pantau terus TTV serta koping ibu saat berkontraksi
• Melakukan 60 Langkah APN (KALA II, III dan IV)
• Rujuk kepada dokter spesialis obstetri dan ginekologi bila terjadi komplikasi
4. Pada saat pasien memasuki KALA III (Fase Uri), yang perlu diperhatikan ialah :
• Pemberian oksitosin 10 unit IM, yang berfungsi untuk uterus agar berkontraksi dengan baik.
• Setelah kelahiran plasenta, periksa apakah kedua sisi plasenta baik yang menempel di ibu maupun anak bahwa selaputnya utuh dan lengkap.
• Evaluasi laserasi pada vagina dan perinium, segera lakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan pendarahan aktif.
5. Pada saat pasien memasuki KALA IV (Fase Pemulihan), yang perlu diperhatikan ialah :
• Pastikan uterus sudah berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi lagi perdarahan pervaginam.
• Pantau terus keadaan ibu dan bayi.
• Perhatikan homeostatis ibu (TTV)
• Penuhi kebutuhan cairan dan nutrisi pada ibu serta personal hygiene.
• Pastikan ibu dapat buang air kecil setelah asuhan persalinan selesai (mencegah kandung kemih)

Astrid Anggreswari N.S
(A2014/A3/131411131042)"


Savira Octaviana

pada : 15 March 2017


"Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan petugas kesehatan khususnya perawat adalah pengetahuan dan pengalaman ibu tentang kehamilan dan persalinan. Mengikuti kelas prenatal dapat sangat membantu prosesnya. Dukungan dari orang terdekat dan integritas emosional dapat membentuk psikogis yang baik, namun persiapan fisik untuk melahirkan juga perlu diperhatikan. Hal penting lainnya adalah menjaga kebersihan personal serta menjaga privacy.

Mencegah dan mengantisipasi terjadinya komplikasi selama proses persalinan dengan memantau tanda-tanda vital ibu dan juga koping ibu selama kontraksi. Penurunan curah jantung dan pola naas tidak efektif dapat menjadi masalah yang besar bagi ibu dan bayi.
"


Elisa Maria Wahyuni

pada : 15 March 2017


"Hal yang perlu diperhatikan saat mengelola pasien impartu ialah:
1. Respon pasien saat setelah impartu, sebagai tenaga kesehatan kita wajib memberikan dukungan emosional kepada pasien, mungkin memuji dan memberikan kata-kata yang membesarkan hati pasien.
2. Memberi cairan dan nutrisi karena selama inpartu pasien telah banyak mengeluarkan darah.
3. Menjaga kebersihan vulva. Membersihkan dengan benar jalan lahir. Dalam membersihkannya juga dipastikan tangan kita (perawat) harus benar steril dan menggunakan alat yang sudah didesinfektan."


Ni Ketut Alit A

pada : 15 March 2017


"Antuasias adik2 mhs merespon kuis baik, sampai komentarnya sangat detail. Maaf yg ditampilkan komentar siangkat saja ya.. satu yg penting menurut adik2 dari sekian banyak hal penting. "


Haris Arganata

pada : 15 March 2017


"Menurut saya hal penting yang harus diperhatikan petugas kesehatan pada pasien inpartu adalah tanda-tanda persalinan inpartu yaitu, adanya his yang adekuat dan teratur, terdapat pembukaan serviks, adanya bloody show. Serta mempersiapkan penatalaksaan pada kala 1 sampai kala 4. "


Nadhia Putri U.S

pada : 15 March 2017


"Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat menangani pasien inpartu yang pertama adalah tentang kondisi pasien (TTV, hasil lab, personal hygiene, dll). Setelah itu kondisi psikologis pasien, apakah pasien siap dengan proses persalinan yang akan dijalani lalu apakah mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, teman, dan petugas yang membantu dalam proses persalinan. Kemudian respon klien saat mengalami his/kontraksi. Melihat apakah ada tanda-tanda komplikasi.
Selain kondisi dari ibu, kondisi janin juga perlu diperhatikan seperti usia janin, DJJ, adakah risiko trauma pada bayi, letak bayi, dll.
Kerjasama yang baik antara petugas kesehatan dan pasien juga keluarga pasien akan memberikan hasil yang baik. "


Devi Noaritasari

pada : 15 March 2017


"Hal penting yang harus diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien inpartu adalah mengkaji kesiapan fisik dan psikologis pasien seperti kekuatan mengejan, koping kecemasan persalinan dan kesiapan menjadi seorang ibu."


Eva Surya Oktaviana

pada : 15 March 2017


"Hal yang perlu diperhatikan bagi petugas kesehatan saat menolong pasien inpartu adalah kondisi ibu selama dan keadaan setelah proses persalinan. Beberapa faktor dari ibu yang dapat mempengaruhi persalinan antara lain power (his dan kekuatan ibu), pass away (jalan lahir) dan kondisi psikologis dari ibu. Seperti yang telah kita ketahui salah satu tanda persalinan adalah adanya his atau kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan yang bila tidak segera diatasi akan meningkatkan rasa khawatir, takut, tegang dan stress ibu. Oleh karena itu perlu adanya dukungan motivasi dari keluarga terdekat maupun petugas kesehatan. "


Nining Ambarwati

pada : 15 March 2017


"Proses inpartu ada 4 kala dan tiap kala terdapat masalah keperawatan yang berbeda-beda. Tetapi ada 2 masalah keperawatan yang sama dan ada di setiap kala yaitu cemas dan nyeri.
Hal penting yang harus dilakukan perawat adalah memotivasi ibu, meningkatkan koping ibu, memenuhi setiap kebutuhan dasar ibu, memberikan ketenangan dan masase punggung ibu. Monitoring TTV dan jika ada keadaan emergensi harus ditangani dengan cepat."


Miladina Nahar

pada : 15 March 2017


"Menurut saya, hal penting yg harus dilakukan petugas kesehatan selama proses inpartu adalah memperhatikan respon fisik dan psikologis ibu, mencegah komplikasi, serta memotivasi ibu dalam proses persalinan. Hal-hal tersebut menurut saya sangat dapat membantu kelancaran proses persalinan. Selain itu juga perlu diperhatikan DJJ (detak jantung bayi) selama proses inpartu. "


Oktaviana Ristya Anggraini

pada : 15 March 2017


"Menurut pendapat saya, hal yang terpenting dalam menolong pasien inpartu yaitu kita terlebih dahulu harus mengetahui riwayat kesehatan dan riwayat ANC (persiapan prenatal: senam hamil, penyuluhan, dll). Karena dengan riwayat kesehatan seperti riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya dan persiapan pre-natal, dapat membantu kita dalam menentukan tindakan keperawatan untuk selanjutnya."


lutvi choirunnisa

pada : 16 March 2017


"menurut saya hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi dan respon pasien, serta tidak lupa kita sebagai perawat harus memberikan tempat yang nyaman, peralatan dan obat-obatan yang diperlukan saat proses persalinan"


Vony Nurul Khasanah

pada : 16 March 2017


"Hal penting apa yang perlu diperhatikan petugas kesehatan saat mengelola pasien persalinan atau inpartu ?

1. Beri dukungan dan dengarkan keluhan ibu
2. Jika ibu tampak gelisah / kesakitan :
a. Biarkan ia berganti posisi sesuai keinginan, tapi jika di tempat tidur sarankan untuk miring kiri
b. Biarkan ia berjalan atau beraktivitas sesuai kesanggupannya
c. Anjurkan suami atau keluarga memijat punggung atau membasuh muka ibu
d. Ajari teknik bernapas
3. Jaga privasi ibu
4. Asuhan sayang Ibu yang dapat diberikan oleh petugas kesehatan kepada pasien inpartu diantaranya :
a. Memberikan dukungan emosional
b. Membantu mengatur posisi ibu
c. Memberikan cairan dan nutrisi
d. Menggunakan kamar mandi secara teratur untuk mengosongkan kandung kemih secara rutin selama persalinan
e. Pencegahan infeksi
5. Persiapan Persalinan, tindakan yang perlu dilakukan :
a. Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi
b. Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang diperlukan
c. Periksa semua peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan
d. Persiapan rujukan
e. Memberikan Asuhan Sayang : Menyapa Ibu dengan ramah dan sopan,bersikap dan bertindak tenang dan berikan dukungan penuh selama persalinan dan kelahiran bayi
6. Mengenali tanda dan gejala kala 2
7. Menyiapkan pertolongan persalinan
8. Memastikan Pembukaan Lengkap dan keadaan janin baik
9. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses : Bimbingan meneran
10. Mempersiapkan pertolongan kelahiran bayi
11. Membantu lahirnya kepala, bahu, badan, tungkai
12. Penanganan bayi baru lahir
13. Manajemen aktif kala 3
14. Pemataun Patograf
15. Menilai perdarahan
16. Melakukan asuhan pasca persalinan (kala 4)
"


Niken Ariska Prawesti

pada : 17 March 2017


"Pengelolaan pasien inpartu dapat dilakukan dengan pengisian data patograf untuk dapat melakukan observasi kepada ibu yang akan inpartus , yang di dalamnya meliputi Informasi tentang ibu ( nama, umur, gravida, para, abortus , nomor catatan medis , tanggal dan mulainya di rawat), kondisi janin (DJJ, warna dan adanya air ketuban, penyusupan kepala janin ), kemajuan persalinan (pembkaan serviks, penurunan bagian bawah janin atau presentasi janin , garis waspada dan garis bertindak ), Jam dan waktu( waktu mulainya fase aktif persalinan,waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian), Kontraksi uterus(frekuensi dan lamanya), Obat-obatan dan cairan yang diberikan(oksitosin,obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan,Kondisi ibu, nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh; urin (volume, aseton atau protein),Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya (dicatat dalarn kolom yang tersedia di sisi partograf atau di catatan kemajuan persalinan)."


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :